Total Tayangan Halaman

Rabu, 11 Desember 2013

BANGUNAN MUSEUM TSUNAMI ACEH 

KARYA RIDWAN KAMIL



Museum Tsunami Aceh, di Banda aceh, indonesia, adalah sebuah museum yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Desain

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku aceh. Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.
Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.
Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini di masa depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi



ARSITEK RIDWAN KAMIL













Mochammad Ridwan Kamil, ST. MUD. (lahir di Bandung, 4 Oktober 1971 umur 42 tahun) adalah Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Beliau berlatar belakang sebagai seorang arsitek, dosen, dan aktivis sosial asal Indonesia. Beliau yang biasa dipanggil Emil ini merupakan putra dari pasangan Dr. Atje Misbach, S.H (alm.) dan Dra. Tjutju Sukaesih. Pada tahun 2013 Ridwan Kamil yang biasa dipanggil Emil ini dicalonkan sebagai walikota Bandung dalam Pemilihan umum Wali Kota Bandung 2013 dengan didampingi oleh Oded Muhammad Danial sebagai calon wakil walikota melalui jalur dukungan partai politik yaitu Partai Keadilan Sejahtera dan kemudian disusul oleh Partai Gerakan Indonesia Raya. Dalam Rapat Pleno KPU Kota Bandung pada 28 Juni 2013, pasangan ini unggul telak dari tujuh pasangan lainnya dengan meraih 45,24% suara sehingga Pasangan Ridwan Kamil - Oded Muhammad Danial (RIDO) ditetapkan menjadi pemenang dalam Pemilihan umum Wali Kota Bandung 2013



TELUSURI MUSEUM ACEH

“Aceh adalah rumah kedua saya,”tutur Ridwan Kamil sebelum mulai memaparkan proses perancangan Museum Tsunami Aceh dalam sebuah diskusi bertajuk Designing Memorials: American and Indonesian Architects Commemorate the Past, Give Light to the Future yang diadakan oleh Pusat Kebudayaan Amerika, Rabu malam (11/09/2013) di @america, Jakarta.

Rumoh Aceh as Escape Hill karya Ridwan Kamil memenangkan Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR Aceh-Nias) pada 17 Agustus 2007 lalu. Ridwan Kamil merancang Museum Tsunami bukan sekedar sebuah musium pada umumnya yang dikunjungi hari ini lalu didatangi lagi berpuluh tahun kemudian. Tapi dirancang dengan konsep sebagai ruang terbuka untuk publik, tempat untuk hang out, zona edukasi, zona perenungan dan pengingat serta tempat untuk memetik dan belajar banyak dari peristiwa tragedi tsunami Aceh, 26 Desember 2004.

Museum Tsunami Aceh mulai dibangun pada tahun 2007, diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Pebruari 2009 dan baru resmi dibuka untuk umum 8 Mei 2009.

Fasad Museum Tsunami Aceh terinspirasi dari tari Saman yang menggambarkan hubungan antar umat manusia. Memasuki musium pengunjung akan melewati sebuah lorong yang disebut Space of Fear (Lorong Tsunami), suasana saat tsunami menggulung Aceh akan dirasakan di tempat ini. Aliran air di dinding sepanjang lorong yang sempit dan gelap disertai suara gemuruh air adalah refleksi ketakutan yang luar biasa ketika para korban berlari menyelamatkan diri dari kejaran air bah.

Di ujung lorong ini pengunjung akan dibawa masuk ke Space of Memory (Ruang Kenangan) dimana terdapat 26 monitor yang menyajikan gambar-gambar peristiwa bencana tsunami. Satu peristiwa yang memilukan, namun ada hikmah dibalik semua kejadian itu.

Kenangan pahit memang tak mudah untuk dilupakan, terlebih saat kita melangkah ke tempat perhentian dimana orang-orang yang kita kasihi bersemayam. Di balik semua kehilangan yang kita rasakan, ada DIA sumber kekuatan yang akan menuntun untuk terus melangkah. Dari Ruang Kenangan pengunjung akan diarahkan untuk masuk ke sebuah ruang perenungan yang disebut Space of Sorrow (Sumur Doa).


Simbolisasi nama-nama para korban tsunami Aceh 2004 di dinding Space of Sorrow (Sumur Doa)





Keluar dari sumur doa, pengunjung akan melewati Space of Confuse (Lorong Cerobong) yang didesain dengan lantai berkelok. Refleksi kebingungan para korban saat berusaha untuk menyelamatkan diri, mencari sanak keluarga dan kehilangan harta benda karena tsunami. Jangan berhenti, teruslah melangkah hingga kau temukan Space of Hope (Jembatan Harapan). Dalam setiap peristiwa yang kita hadapi selalu ada harapan untuk bangkit merengkuh cahaya yang baru. Meraih uluran tangan sahabat dan bergandengan tangan menuju hidup yang baru.


                                Jembatan Harapan atau Space of Hope di Museum Tsunami Aceh



Bendera perdamaian, beragam kata damai ditulis dengan bahasa dari negara-negara yang memberikan bantuan pasca tsunami Aceh

Terakhir, Ridwan Kamil tak lupa menjelaskan bagian atap musium yang berbentuk datar dan lapang dirancang sebagai zona evakuasi jika sewaktu – waktu terjadi gempa. Museum Tsunami Aceh juga dilengkapi dengan ruang pamer, ruang audiovisual, ruang cinderamata dan restoran. Meski konsep awal benda-benda yang seharusnya mengisi setiap ruangan di dalam musium ini agak melenceng dari harapan sang desainer, dirinya tetap bangga musium ini bisa berguna bagi generasi yang akan datang.
Ridwan Kamil yang akan dilantik menjadi Walikota Bandung periode 2013 – 2018 pada Senin (16/09/2013) mengatakan, banyak momen emosional, banyak air mata yang tertumpah selama mengerjakan desain Museum Tsunami Aceh. Itulah sebabnya mengapa Aceh menjadi sangat spesial bagi Emil, panggilan akrab dosen di Institut Teknologi Bandung ini.







 

1 komentar: